Minggu, 20 Juli 2014

NASIB BURUK BERSAMA DUCATI

Rossi mengakui tak bisa menakhlukkan Desmosedici
Minggu kemarin Valentino Rossi berbicara tentang rasa frustasinya setelah dua tahun bersama Ducati, setelah dua tahun gap dengan barisan depan masih saja sama dan masalahnya sama seperti pertama kali ia melakukan tes di Valencia. Kemarin ia berkata bahwa fokusnya saat ini adalah mengendarai Yamaha M1 untuk menaksir seberapa parah keadaan sejak ia bersama Ducati, Rossi juga mengatakan bahwa ada kesempatan bagi pengendara baru Ducati musim 2013 untuk menakhlukan Desmosedici.
Mengenai balapan di Philip Island, Rossi terlihat filosofis, setelah finish secara biasa-biasa saja di posisi ketujuh, dengan selisih +37 detik dari pemenang di trek yang mana Rossi pernah menang 5 kali berturut-turut ini, ia menepis pertanyaan yang menanyakan apakah race itu buruk atau tidak dengan sindiran. “Saya malah menduga lebih dari ini! Kemarin saya tertinggal 2 detik, 2 detik untuk 27 lap, saya kira bakal tertinggal 54 detik! Jadi ini race yang bagus”, candanya.
Sebelumnya rekor Rossi di Philip Island luar biasa tapi setelah dua tahun bersama Ducati ia gagal memahami mengapa Stoner begitu sukses di Ducati sedangkan orang lain tak berhasil. “Casey adalah satu-satunya rider yang bisa cepat mengendarai Ducati, semua yang mencoba Ducati akan hancur, bukan karirnya melainkan pikirannya ………….. Jadi selamat buat Casey. Tapi dua tahun yang lalu saya tak mengerti mengapa ada perbedaan antara Stoner dan pembalap Ducati lainnya  dan setelah dua tahun saya mengendarai Ducati saya juga belum mengerti”. Rossi tak percaya sewaktu ia Ducati ia berhadapan dengan masalah yang sama, dan ketika ditanya pengalaman apa yang dia dapat, seperti katanya menghancurkan pikiran, Rossi menjawab : “Saya pikir tak begitu, khususnya karena saya punya kesempatan lain”.
Sewaktu ia bersama Ducati, yang telah digembar-gemborkan sebagai pasangan dari surga antara dua ikon Italia, merek Ducati legendaris dan sembilan kali Juara Dunia Valentino Rossi,  ternyata lebih sukar daripada yang ia bayangkan. “Begitu sulit, dua musim yang sangat sulit. Bagian yang paling sulit adalah kurangnya kemajuan  meski banyak perubahan yang telah dibuat Ducati. Rossi menandai masa itu sebagai masa ‘yang paling membuat frustasi’ . Sedikit perubahan yang terjadi selama dua tahun terakhir, Rossi mengatakan : “Frustasi yang paling besar, terlepas dari hasil yang buruk dan feeling yang tak mengenakkan adalah kami memiliki masalah yang kurang lebih sama dengan motor ini seperti halnya sewaktu di Valencia 2010. Dan terkadang muncul perasaan bahwa anda hanya menyia-nyiakan waktu anda, ini adalah yang paling membuat frustasi”.
Meski ia merasa frustasi tapi ia merasa sulit untuk mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang di Ducati. “Saya rasa akan begitu emosional di Valencia nanti karena di sana saya mendapatkan suasana dan orang-orang baik untuk bekerja sama dan mempersiapkan balapan. Dan saya pun selalu berkelompok dengan timku, bukan karena pilihan melainkan memang seperti ini, ini sifatku dan pastinya sulit untuk berkata ciao kepada mereka. Tapi di waktu yang sama anda tahu kami tak bisa meraih hasil yang bagus jadi ini adalah keputusan yang  baik untukku dan saya tak sabar ingin menaiki M1. Meski hasil yang buruk bersama Ducati Rossi merasa karirnya belum kehilangan sinarnya. Ini adalah pertama kalinya saya salah memilih karir. Di sepanjang karirku saya tak pernah salah namun kali ini saya salah”.

Sebagai rider kedua Rossi merasa kurangnya pressure pada dirinya
Rossi mengakui bahwa ia merasa gugup kembali ke Yamaha meski ia merasa yakin dengan keputusannya tersebut. “Saya rasa saya bisa memberikan dukungan yang sangat  penting pada Yamaha untuk meningkatkan motor. Saya yakin 100% karena antara saya dan Yamaha merupakan pasangan serasi dalam hal kerja dan peningkatan motor. Saya tak yakin  bisa berada di level yang sama seperti Lorenzo dan Pedrosa dan berjuang untuk menang dan meraih kejuaraan dunia, kamu tahu? Sejujurnya saya tak tahu jadi saya harus mencoba motor terlebih dahulu. Tapi kita punya waktu dua tahun  dan kalau ingin melakukan tes, tes di Valencia itu sangat penting untuk dipahami. Setelah kita bekerja kita harus memberikan maksimal Jeremy [Burgess] harus memberikan maksimal, setiap orang harus memberikan 100% untuk meningkatkan, memperbaiki masalah, meningkatkan level kami, untuk melawan, terutama  Lorenzo pada motor yang sama,  yang sekarang adalah juara dunia”.
Keuntungan kembalinya Rossi menjadi rider kedua, posisi tersebut memberinya banyak kebebasan. “Anda tahu, kami adalah nomor dua, dan biasanya nomor satu berada dalam posisi yang lebih sulit, karena nomor satu – dalam hal ini Lorenzo dan Pedrosa -.Seperti saya dengan Lorenzo pada tahun 2008 dan 2009.  Jika anda finish di depan, OK , adalah normal. Tapi jika Anda finish di belakang tiba-tiba anda memiliki  masalah.”
Pertanyaan tentang rider Ducati baru yang bisa menakhlukkan Desmosedici cukup menarik perhatian Rossi. Andrea Dovizioso memiliki catatan trek tersendiri sedang Iannone belum mengalami pengalaman dengan pabrikan Jepang. Ben pun memiliki prospek yang menarik. “Saya pikir menarik juga menunggu Spies, tapi dengan cedera, saya pikir kita harus menunggu sampai tahun depan. Pertama, menarik untuk memahami Dovi dan Iannone dibandingkan dengan Hayden. dan juga untuk memahami antara Dovi dan Iannone, karena Dovi memiliki lebih banyak pengalaman di MotoGP, di sisi lain, Iannone tidak memiliki pengalaman MotoGP, tetapi tidak pernah naik Honda dan Yamaha. Mungkin bisa menjadi keuntungan kecil, saya tidak tahu dan saya tidak yakin. Tapi bisa berbeda. karena pasti motor Jepang berbeda  dan Iannone berasal dari Moto2, tidak pernah naik motor Jepang, sehingga pikirannya lebih terbuka, kosong”, papar Rossi.